Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

 
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (5/6)
Muhammad Husain Haekal
 
Dalam hidup ini rasanya tak ada yang lebih baik merangsang
kita dalam bekerja dan berusaha seperti dalam mencari nafkah
dan harta. Demi harta sebagian besar orang berusaha dan
berjuang, yang kadang sampai diluar kemampuannya. Dalam dunia
kita sekarang ini, sekali lihat saja orang sudah dapat
memperoleh kesan apa yang sedang bergolak dalam dunia ini -
perjuangan dan kesulitan, perang dan damai, pemberontakan dan
kekacauan - demi harta. Demi harta inilah kerajaan-kerajaan
terbalik menjadi republik, untuk harta ini pertumpahan darah
terjadi, nyawa manusia melayang. Juga anak-anak keturunan!
Kesulitan yang bagaimanakah yang tidak akan kita pikul demi
anak-anak buah hati kita! Kepahitan yang bagaimana pula yang
takkan terasa manis kalau memang untuk kesenangan mereka,
untuk menjamin kemakmuran hidup dan kemuliaan mereka! Segala
kesulitan untuk mencapai kebahagiaan mereka itu jadi mudah.
Bahkan, demi harta dan anak-anak keturunannya itu, ada orang
yang menganggap segala yang mustahil itu tiada berarti. Ada
yang sampai berlebih-lebihan sekali dalam hal ini sehingga
untuk itu ia mengorbankan segala kesenangannya, bahkan
hidupnya.
 
Memang demikianlah, harta dan anak-anak keturunan itu memang
hiasan (bentuk luar) kehidupan dunia. Tetapi disamping inti
kehidupan yang sebenarnya bentuk luar itu bukan apa-apa. Orang
yang mengorbankan inti demi hiasan lahir, sama dengan orang
yang berpikir sempit dan bodoh saja: sama dengan perempuan
yang tidak memandang penting kesehatannya sendiri asal dia
tampak cantik untuk sementara waktu; sama dengan pemuda yang
sudah lupa daratan, yang mau mengorbankan pikiran dan harga
dirinya ditengah-tengah ejekan kawan-kawannya bila ia mengira
bahwa dirinya adalah pemimpin mereka sebab dia sudah
menghambur-hamburkan harta untuk mereka itu; atau sama seperti
mereka, orang-orang yang begitu bodoh, yang tertipu oleh
kenyataan dibalik kebenaran, oleh hari ini dibalik hari esok.
Mereka yang mengejar harta dan anak-anak keturunan sebagai
hiasan kehidupan dunia dan melupakan yang lain, mereka ini
tidak kurang pula bodohnya. Harta dan anak-anak keturunan
suatu hiasan. Sedang inti kehidupan ialah segala pekerjaan dan
perbuatan baik yang kekal. Dan untuk perbuatan-perbuatan baik
inilah orang harus mencurahkan tenaga dan perjuangannya lebih
dari pada untuk hiasan (bentuk luar) kehidupan dunia, harta
dan anak-anak keturunannya.
 
Kita sudah melihat betapa luhurnya tujuan yang digambarkan
ayat Qur'an Suci ini. Kalau kita sudah mencurahkan segala
tenaga dan darah kita demi hiasan kehidupan dunia ini, maka
kita juga harus mencurahkan jiwa dan hati kita untuk inti
daripada kehidupan itu, bentuk harus tunduk kepada inti. Oleh
karena itu segala hidup kita, harta kita dan anak-anak
keturunan kita harus ditujukan kepada tujuan ini, kepada inti
daripada perbuatan-perbuatan baik yang kekal itu yang lebih
besar pahalanya dalam pandangan Tuhan serta harapan yang lebih
baik pula.

Mengenai logika yang begitu sehat dan jelas ini bagaimana
dalam pemikiran Muslimin dapat berubah menjadi bermacam-macam
kepercayaan yang sama sekali tidak sesuai? Pada pembahasan
yang pertama buku ini sepintas lalu ada juga kita singgung
tatkala kita sebutkan tentang keadaan yang sudah berubah pada
umat Islam itu.
 
Karena adanya penaklukan-penaklukan yang pernah menguasai
imperium Islam secara berturut-turut sejak berakhirnya zaman
dinasti Abbasiah - seperti yang sudah kita singgung sepintas
lalu dalam pengantar cetakan kedua - cara musyawarah yang
berlaku pada permulaan sejarah Islam telah berubah menjadi
kerajaan yang sewenang-wenang pada zaman dinasti Umayyah, lalu
menjadi hak suci pada masa Abbasiah kedua.

Baiklah sekarang kita ikuti keterangan almarhum Syaikh
Muhammad Abduh dengan agak terperinci dalam Al-Islam
wan-Nashrania sebagai berikut:
 
"Islam pada mulanya agama yang dianut orang Arab. Kemudian
setelah berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang tadinya
bercorak Yunani ilmu itu pun lalu bercorak Arab pula. Kemudian
ada seorang khalifah yang salah dalam menjalankan politik.
Keluasan Islam digunakannya untuk apa yang dikiranya akan
membawa keuntungan untuk kepentingannya - dikiranya bahwa
tentara yang terdiri dari orang-orang Arab itu mungkin saja
akan jadi pendukung seorang khalifah golongan Ali, sebab
golongan ini dekat sekali pertaliannya dengan keluarga Nabi
s.a.w. Oleh karena itu ia mau mempergunakan tentara dari luar,
yang terdiri dari orang-orang Turki, Dailam dan lain-lain yang
dikiranya pula bahwa dengan kekuasaannya itu mereka ini akan
dapat diperhamba, dapat dipergunakan untuk kepentingannya.
Suasana tidak akan membantu adanya pihak yang akan memberontak
kepadanya atau menuntut kedudukannya sebagai penguasa,
meskipun keluasan hukum Islam akan membenarkan ia melakukan
itu. Sejak itulah Islam jadi bercorak asing.
 
"Ada seorang khalifah Banu Abbas - yang karena mengingat
kepentingannya sendiri serta anak cucunya - ia ingin sebagian
besar tentaranya itu diangkat dari orang-orang asing, demikian
juga pembesar-pembesarnya. Suatu tindakan yang buruk sekali,
baik terhadap bangsanya atau pun terhadap agama. Tetapi tidak
lama kemudian pembesar-pembesar militer ini pun telah pula
dapat mengalahkan para khalifah itu. Dengan kekuasaan yang ada
itu mereka telah dapat bertindak sewenang-wenang. Sekarang
kekuasaan negara berada ditangan mereka, dengan tiada
persiapan pikiran seperti yang diajarkan Islam dan dengan hati
yang sudah diisi oleh pendidikan agama. Bahkan sebaliknya,
mereka datang menerima Islam dalam keadaan biadab dan bodoh,
dengan membawa segala macam kekejaman. Tubuh mereka mengenakan
pakaian Islam, tapi ajarannya belum sampai menembusi hati
mereka. Masih banyak diantara mereka itu yang membawa berhala
untuk disembah dengan diam-diam. Kalau pun ada yang
menjalankan salat bersama-sama, itu hanya untuk memperkuat
kekuasaannya.
 
"Kemudian datang lagi yang lain melanda Islam, seperti bangsa
Tatar dan yang lain misalnya, malah persoalan agama juga
dibawah kekuasaannya. Buat mereka musuh yang paling besar
ialah ilmu pengetahuan. Orang pun sudah mengenal siapa mereka,
sudah mengetahui sejarah mereka yang buruk itu. Mereka sangat
memusuhi ilmu, juga memusuhi yang menjadi pelindung ilmu,
yakni Islam. Segala yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan
tidak pernah mendapat perhatian mereka, bantuan untuk itu pun
dihentikan. Tidak sedikit dari kaki tangan mereka itu yang
turut menyusup kedalam jiwa orang yang masih awam dalam
agamanya. Mereka menempatkan diri ke tengah-tengah orang yang
masih hijau dalam agama itu, sebagai orang yang taat dan
pelindung agama. Mereka menganggap agama masih belum sempurna,
perlu disempurnakan, atau sedang sakit, perlu diobati, atau
juga sedang miring, perlu ditopang, sudah hampir roboh, jadi
perlu dibangun kembali.
 
"Dengan mengingat masa lampau mereka yang masih dalam
kemegahan paganisma, adat-istiadat golongan-golongan Nasrani
yang terdapat di sekitarnya, mereka pun hendak menerapkan
semua itu ke dalam Islam - suatu hal yang diluar tanggungjawab
Islam. Tetapi dalam meyakinkan orang-orang awam bahwa yang
demikian ini demi kebesaran syiar agama, mereka berhasil.
Rakyat jelata memang alat penguasa dan senjata kaum tiran.
Mereka telah menciptakan bermacam-macam pesta dan
upacara-upacara keagamaan. Merekalah yang membuat peraturan
kepada kita tentang adanya pemujaan kepada para wali, kepada
ulama dan yang sebangsanya. Mereka telah memecah belah umat
Islam, dan menjerumuskan orang kedalam kesesatan. Mereka juga
yang menentukan, bahwa kita yang datang kemudian harus
mengikuti apa yang dikatakan oleh orang dahulu. Hal ini oleh
mereka telah dijadikannya pula suatu akidah, yang membuat
orang jadi berhenti berpikir, membuat pikiran jadi beku.
 
"Lalu kaki tangan mereka menyebarkan cerita-cerita,
berita-berita dan bermacam-macam pandangan ke seluruh pelosok
kawasan Islam - yang akan membuat orang awam jadi puas dan
yakin - bahwa mereka tidak berhak mencampuri soal-soal umum.
Segala yang berhubungan dengan soal-soal masyarakat dan negara
adalah menjadi wewenang para penguasa. Barangsiapa mau
mencampuri soal semacam ini di luar mereka, berarti ia
memasuki persoalan yang bukan bidangnya. Apabila sampai timbul
kerusakan-kerusakan dan suasana yang tidak menyenangkan, semua
itu bukan karena perbuatan para penguasa, melainkan suatu
kenyataan seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis sebagai
ciri-ciri akhir zaman. Orang tidak perlu menghindarkan diri
baik untuk masa sekarang mau pun untuk masa yang akan datang.
Maka lebih aman apabila hal ini kita serahkan saja kepada
Tuhan. Kewajiban seorang Muslim hanyalah mengurus diri
sendiri.
 
"Dalam hal ini mereka menemukan pula beberapa hadis yang
secara harfiah membantu sekali maksud mereka. Demikian juga
adanya hadis-hadis palsu dan lemah dapat memperkuat tujuan
mereka menyebarkan pelbagai ilusi semacam itu. Barisan yang
menyesatkan semacam itu sudah tersebar luas di kalangan
Muslimin sendiri, dengan mendapat bantuan di mana-mana dari
pembesar-pembesar yang memang berbahaya itu. Kepercayaan
tentang takdir mereka pergunakan sebagai alat pemadam
semangat, sebagai belenggu yang akan dipasang di tangan orang
yang mau berusaha. Faktor yang paling kuat mendorong hati
orang menerima dongengan-dongengan semacam ini ialah tingkat
pengetahuan yang masih bersahaja, kesadaran beragama yang
lemah dan mudah terbawa nafsu. Ketiga faktor ini bila bertemu
berarti suatu kehancuran. Kebenaran sudah tertimbun oleh
kepalsuan yang begitu tebal. Kepercayaan-kepercayaan yang
bertentangan dengan ajaran pokok agama, dan mengaburkannya
sekaligus - seperti kata orang - sudah sangat melekat ke dalam
hati.
 
"Politik demikian ini adalah politik tirani dan egoistis
sifatnya. Politik inilah yang menyebarkan hal-hal yang bukan
dan agama dimasukkan kedalam agama. Politik inilah yang telah
merampas harapan dari si Muslim yang tadinya hendak menembusi
lapisan langit; terpaku ia dalam hidup putus asa, hidup dengan
makhluk-makhluk hewan yang membisu ... Sebagian besar yang
kita saksikan sekarang, yang dinamakan Islam, sebenarnya bukan
Islam. Hanya bentuknya saja yang masih dipelihara sebagai
amalan-amalan Islam - sembahyang, puasa, naik haji, ditambah
sedikit hafalan kata-kata-yang artinya sudah dibelokkan pula.
Ajaran-ajaran bid'ah dan dongengan-dongengan yang dimasukkan
kedalam agama dan dianggap sebagai agama, telah membuat orang
jadi beku dalam berpikir, seperti sudah saya sebutkan tadi.
 
Semoga Tuhan menjauhkan semua kita dari mereka dan dari
kebohongan yang mereka buat-buat atas nama Tuhan dan agama
itu! Segala cacat yang sekarang dialamatkan kepada kaum
Muslimin sebenarnya bukan dari Islam, tetapi sesuatu yang lain
yang mereka namakan Islam."7

Keadaan yang digambarkan oleh Syaikh Muhammad Abduh ini memang
merupakan beberapa pendirian yang bertentangan sekali, yang
oleh mereka disiar-siarkan dan disebarkan begitu luas dengan
mengatakan bahwa itu ajaran Islam, itu perintah Tuhan dan
Rasul. Dan pelbagai macam pendirian inilah lahirnya mazhab
jabariah, yang oleh mereka yang datang kemudian telah
digambarkan begitu rupa, berlainan sekali dengan apa yang ada
dalam Qur'an. Lukisan Qur'an mengenai hal ini sudah kita lihat
di atas. Sebaliknya yang datang kemudian, mereka hanya
menyuruh orang duduk-duduk dan menyerah saja. dengan
mengatakan bahwa lapangan hidup ini bukan harus dilakukan
dengan usaha dan rencana, tetapi memang sudah tergantung
kepada rejeki dan takdir juga, bukan kepada jasa pekerjaan
seseorang. Ini adalah jabariah yang salah sama sekali, yang
telah memberi peluang kepada beberapa orang di Barat untuk
menuduh Islam dengan tidak pada tempatnya. Berdasarkan
pendirian inilah timbul mazhab merendamkan arti materi dan
tidak mau campur tangan dalam persoalan semacam ini. Ini
adalah mazhab kaum Stoa8 di Yunani, juga pada suatu ketika
pernah tersebar di kalangan segolongan kaum Muslimin,
kendatipun ini memang bertentangan dengan firman Tuhan:
 
"Dan jangan kau lupakan nasibmu dalam kehidupan dunia ini."
(Qur'an 28 - 77)
 
Sungguhpun demikian aliran ini mempunyai literatur yang cukup
luas pada masa Banu Abbas dan sesudahnya. Yang dikehendaki
oleh Qur'an ialah jalan tengah. Ia tidak membenarkan orang
hidup serba menahan diri, juga tidak membenarkan ibahiyah atau
hidup serba boleh seperti diduga oleh Irving, bahwa cara hidup
demikian itu telah menghanyutkan kaum Muslimin kedalam
kemewahan dan melupakan perjuangannya, serta menjerumuskan
umat Islam ke dalam keadaan mereka seperti sekarang ini.

Penulis Amerika ini mengatakan, bahwa ajaran Kristen
mengajarkan kesucian dan kasih sayang sebaliknya daripada
lslam, seperti yang dituduhkannya. Bukan maksud saya akan
membanding-bandingkan Islam dengan Kristen dalam hal ini,
sebab keduanya memang sejalan, dan tidak berbeda. Biasanya
membanding-bandingkan demikian itu hanya akan berakhir pada
perdebatan dan pertentangan yang tidak akan menguntungkan
Kristen ataupun Islam. Akan tetapi apa yang saya perhatikan -
dan inilah yang ingin saya tekankan - ialah bahwa antara
sejarah hidup Isa 'a.s. dengan ajaran Stoaisma dan hidup
menahan diri secara berlebih-lebihan yang dihubungkan kepada
ajaran Kristen, terdapat perbedaan yang jelas sekali. Almasih
bukan seorang penganut ajaran stoa. Bahkan mujizatnya yang
mula-mula dan utama, ialah ketika ia mengubah air tawar
menjadi minuman anggur dalam pesta perkawinan di Kana,
Galilea, yang juga dia diundang, dan dia ingin jangan orang
kekurangan minuman keras itu setelah habis dari persediaan.
Juga dia tidak menolak undangan kaum Parisi9 yang mengadakan
pesta makan yang mewah dan dia tidak keberatan orang mengecap
kenikmatan yang diberikan Tuhan.
 
Sedang sejarah hidup Muhammad dalam hal ini lebih menekankan
pada keseimbangan jalan tengah. Memang benar bahwa Isa
menganjurkan orang-orang kaya bermurah hati kepada fakir
miskin dan mencintai mereka. Tetapi sepanjang yang pernah
dikenal umat manusia dalam hal ini, Qur'an lebih-lebih lagi
menekankan. Pembaca tentu sudah melihat sendiri ketika kita
bicara tentang zakat dan sedekah, sehingga tidak perlu lagi
kiranya diulang. Dan cukup kalau terhadap Irving dan yang
semacamnya itu kita jawab, bahwa Qur'an mengajarkan jalan
tengah dalam segala hal.
 
Tinggal lagi kata-kata terakhir yang diuraikan Irving itu,
yaitu kata-kata yang oleh pihak Barat dimaksudkan untuk
mencemarkan kita tapi sebenarnya itu merupakan kecemaran Barat
sendiri, merupakan arang di kening dan aib di wajah
kebudayaannya sendiri. Irving berkata: "Adanya bulan sabit ini
sampai sekarang di Eropa - yang pada suatu waktu pernah
mencapai kekuatan yang luarbiasa - hanyalah karena perbuatan
negara-negara Kristen yang besar-besar; atau lebih tepat lagi:
karena persaingan mereka sendiri. Bertahannya bulan sabit itu
barangkali untuk menjadi bukti yang baru, bahwa: "barangsiapa
menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."

"Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang." Ini
sebuah ayat dalam Injil (Perjanjian Baru) yang oleh Irving
dialamatkan kepada Islam, atas nama Kristen. Sungguh aneh!
Barangkali Irving masih dapat dimaafkan mengingat apa yang
dikatakannya itu sudah seabad yang lalu. Pada waktu itu
penjajahan Barat, menurut istilah kita - atau penjajahan
Kristen menurut istilahnya - keserakahan dan penggunaan
pedangnya belum separah seperti sekarang. Tetapi Marshal
Allenby, yang dalam tahun 1918 menaklukkan Yerusalem atas nama
Sekutu, ia berkata seperti kata-kata itu juga sambil berteriak
di Kuil Sulaiman: "Sekarang Perang Salib sudah selesai!"
 
Atau seperti dikatakan oleh Dr. Peterson Smith dalam sebuah
bukunya tentang kehidupan Almasih, bahwa "Penaklukan Yerusalem
itu adalah merupakan Perang Salib kedelapan yang dilancarkan
pihak Kristen untuk mencapai maksudnya." Bisa jadi benar juga
bahwa penaklukan itu berhasil bukan atas usaha pihak Kristen,
tapi atas usaha orang-orang Yahudi yang telah mempergunakan
mereka untuk menjadikan impian Israel dahulu kala suatu
kenyataan, lalu menjadikan Tanah yang dijanjikan itu sebagai
daerah nasional bangsa Yahudi.

"Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."
Kalau kata-kata Injil ini dapat diterapkan kepada sesuatu
golongan maka golongan yang paling tepat menerimanya dewasa
ini ialah Eropa yang menganut Kristen itulah. Islam tidak
pernah mempergunakan pedang dan oleh karenanya tidak akan
binasa oleh pedang. Sebaliknya Eropa yang menganut Kristen,
pada zaman belakangan ini telah menggunakan pedang untuk
mengejar kebebasan hidup yang berlebih-lebihan dan kemewahan
yang oleh Irving dipalsukan alamatnya, kepada Islam dan
Muslimin. Dewasa ini Eropa yang menganut Kristen itu telah
mengambil alih peranan yang dulu dipegang oleh Mongolia dan
Tatar, tatkala mereka yang secara lahir menggunakan baju Islam
menaklukkan beberapa kerajaan tanpa membawa ajaran-ajaran
Islam. Merekapun mengalami kehancuran bersama-sama kaum
Muslimin. Inilah keruntuhan yang telah menimpa bangsa-bangsa
Islam. Tetapi Eropa yang menganut Kristen dewasa ini tidak
lebih baik dari bangsa-bangsa Tatar dan Mongolia itu. Begitu
menaklukkan bangsa-bangsa Islam, segera pula mereka sendiri
menganut Islam, melihat kebesaran dan kesederhanaan yang ada
dalam ajaran Islam. Sebaliknya Eropa, ia menyerang bukan mau
menyiarkan sesuatu kepercayaan atau kebudayaan, tapi mau
menjajah, mau menjadikan agama Kristen sebagai alat
penjajahan.
 
Oleh karena itu propaganda misi Kristen Eropa tidak pernah
berhasil, sebab tujuannya memang sudah tidak ikhlas. Terutama
di kalangan bangsa-bangsa beragama Islam propaganda ini tidak
pernah berhasil dan tidak akan berhasil. Kebesaran dan
kesederhanaan Islam, demikian juga ajarannya yang memberi
tempat kepada pikiran logis dan ilmu, tidak memberi harapan
kepada propaganda agama apa pun untuk berhasil mempengaruhi
pemeluk-pemeluk Islam
 
"Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang." Ini
benar. Meskipun ini memang sesuai dengan keadaan Muslimin yang
datang kemudian, yang berperang hendak menaklukkan beberapa
kerajaan dan untuk menjajahnya, bukan untuk membela diri dan
membela keyakinannya, tapi buat masa sekarang hal ini lebih
sesuai lagi dengan Barat yang berperang dan menaklukkan untuk
merendahkan dan menjajah bangsa-bangsa lain.

Kaum Muslimin yang mula-mula pada zaman Nabi dan para
penggantinya dan yang datang sesudah itu, mereka berperang
bukan untuk menaklukkan atau menjajah, melainkan untuk
mempertahankan keyakinan mereka tatkala mereka diancam oleh
Quraisy dan oleh orang-orang Arab, kemudian diancam pula oleh
Rumawi dan oleh Persia. Dalam peperangan ini mereka tidak
memaksa orang harus menganut Islam, karena memang tak ada
paksaan dalam agama. Juga dengan peperangan itu mereka tidak
bermaksud hendak menjajah bangsa lain. Beberapa kerajaan dan
amirat oleh Nabi dibiarkan dalam kerajaan dan amiratnya
masing-masing Tujuannya hanyalah supaya ada kebebasan
mempropagandakan agama. Oleh karena akidah Islam memang begitu
kuat dan jelas mempertahankan kebenaran yang diajarkannya,
jelas sekali bahwa tidak ada keistimewaan orang Arab terhadap
bangsa lain yang non-Arab, kecuali dengan takwa, dan bahwa
kekuasaan tertinggi itu hanya ada pada Allah, maka cepat
sekalilah ajaran ini tersebar ke segenap penjuru bumi, seperti
halnya dengan setiap kebenaran yang sungguh-sungguh jujur akan
cepat pula tersebar.
 
Akan tetapi setelah kemudian ada pihak-pihak yang masuk Islam
dan mereka ini terjun kedalam kancah peperangan dan
menaklukkan dengan menggunakan pedang, mereka pun kemudian
dihancurkan oleh pedang pula. Tetapi Islam tidak sekali-kali
mempergunakan pedang dan tidak akan binasa oleh pedang. Islam
tidak pernah mempergunakan pedang. Malah ia dapat memikat
pikiran dan hati nurani manusia hanya dengan kekuatan yang ada
di dalam Islam itu sendiri.
 
(bersambung ke bagian 6/6)
 

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komen dgn kalimat yg sopan ya..

 

Popular Posts

Untuk melihat profil, taruh kursor di atas photoku

Follower

Just select text on the page and get instant translation from Google Translate!
Google Translate Client