Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

 
BAGIAN KESEBELAS: TAHUN PERTAMA DI YATHRIB1              (2/4)
Muhammad Husain Haekal
 
Orang yang begitu mulia, sangat rendah hati, orang yang penuh
kasih sayang, selalu memenuhi janji, sifatnya yang pemurah,
selalu terbuka bagi si miskin, bagi orang yang hidup
menderita, ini juga yang memberikan kewibawaan kepadanya
terhadap penduduk Yathrib. Dan semua ini telah sampai kepada
suatu ikatan perjanjian persahabatan dan persekutuan serta
menetapkan adanya kebebasan beragama. Perjanjian ini - menurut
hemat kita - merupakan suatu dokumen politik yang patut
dikagumi sepanjang sejarah. Dan fase yang dialami dalam
sejarah hidup Rasul ini belum pernah dialami oleh seorang nabi
atau rasul lain. Pernah ada Isa, ada Musa, ada nabi-nabi yang
lain sebelum itu. Mereka terbatas hanya pada dakwah agama
saja. Mereka menyampaikan itu kepada orang dengan jalan
berdebat, dengan jalan mujizat. Sesudah itu mereka tinggalkan
ditangan para penguasa yang kemudian, dan untuk menyiarkan
dakwahnya itu harus dilakukan dengan kekuatan politik dan
membela kebebasan orang yang sudah beriman kepadanya itu
dengan kekuatan senjata yang disertai peperangan pula. Agama
Kristen disiarkan oleh murid-muridnya yang kemudian sesudah
Isa. Mereka dan pengikut-pengikut mereka masih selalu
mengalami siksaan. Baru setelah ada raja-raja yang cenderung
kepada agama ini, ia dilindunginya dan disiarkan. Begitu juga
halnya dengan agama lain, di dunia Timur ataupun di Barat.
 
Sebaliknya Muhammad, tersebarnya Islam serta menangnya misi
kebenaran itu harus berada ditangannya. Ia menjadi Rasul,
menjadi negarawan, pejuang dan penakluk. Semua itu demi Allah,
demi misi kebenaran, yang oleh karenanya ia diutus. Dalam hal
ini semua, sebenarnya dia adalah orang besar, lambang
kesempurnaan insani par exellence dalam arti kata yang
sebenarnya.

Antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan orang-orang Yahudi,
Muhammad membuat suatu perjanjian tertulis yang berisi
pengakuan atas agama mereka dan harta-benda mereka, dengan
syarat-syarat timbal balik, demikian bunyinya:
 
"Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Surat Perjanjian
ini dari Muhammad - Nabi; antara orang-orang beriman dan kaum
Muslimin dari kalangan Quraisy dan Yathrib serta yang mengikut
mereka dan menyusul mereka dan berjuang bersama-sama mereka;
bahwa mereka adalah satu umat di luar golongan orang lain.
 
"Kaum Muhajirin dari kalangan Quraisy adalah tetap menurut
adat kebiasaan baik yang berlaku2 di kalangan mereka,
bersama-sama menerima atau membayar tebusan darah3 antara
sesama mereka dan mereka menebus tawanan mereka sendiri dengan
cara yang baik dan adil diantara sesama orang-orang beriman.
 
"Bahwa Banu Auf adalah tetap menurut adat kebiasaan baik
mereka yang berlaku, bersama-sama membayar tebusan darah
seperti yang sudah-sudah. Dan setiap golongan harus menebus
tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil diantara
sesama orang-orang beriman."
 
Kemudian disebutnya tiap-tiap suku4 Anshar itu serta keluarga
tiap puak: Banu'l-Harith, Banu Saida, Banu Jusyam,
Banu'n-Najjar, Banu 'Amr b. 'Auf dan Banu'n-Nabit. Selanjutnya
disebutkan,
 
"Bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh membiarkan
seseorang yang menanggung beban hidup dan hutang yang berat
diantara sesama mereka. Mereka harus dibantu dengan cara yang
baik dalam membayar tebusan tawanan atau membayar diat.
 
"Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh mengikat janji dalam
menghadapi mukmin lainnya.
 
"Bahwa orang-orang yang beriman dan bertakwa harus melawan
orang yang melakukan kejahatan diantara mereka sendiri, atau
orang yang suka melakukan perbuatan aniaya, kejahatan,
permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman
sendiri, dan mereka semua harus sama-sama melawannya walaupun
terhadap anak sendiri.
 
"Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh membunuh sesama
mukmin lantaran orang kafir untuk melawan orang beriman.
 
"Bahwa jaminan Allah itu satu: Dia melindungi yang lemah
diantara mereka.
 
"Bahwa orang-orang yang beriman itu hendaknya saling
tolong-menolong satu sama lain.
 
"Bahwa barangsiapa dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut
kami, ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan; tidak
menganiaya atau melawan mereka
 
"Bahwa persetujuan damai orang-orang beriman itu satu; tidak
dibenarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri dengan
meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di jalan
Allah. Mereka harus sama dan adil adanya.
 
"Bahwa setiap orang yang berperang bersama kami, satu sama
lain harus saling bergiliran.
 
"Bahwa orang-orang beriman itu harus saling membela terhadap
sesamanya yang telah tewas di jalan Allah.
 
"Bahwa orang-orang yang beriman dan bertakwa hendaknya berada
dalam pimpinan yang baik dan lurus.
 
"Bahwa orang tidak dibolehkan melindungi harta-benda atau jiwa
orang Quraisy dan tidak boleh merintangi orang beriman.
 
"Bahwa barangsiapa membunuh orang beriman yang tidak bersalah
dengan cukup bukti maka ia harus mendapat balasan yang
setimpal kecuali bila keluarga si terbunuh sukarela (menerima
tebusan).
 
"Bahwa orang-orang yang beriman harus menentangnya semua dan
tidak dibenarkan mereka hanya tinggal diam.
 
"Bahwa seseorang yang beriman yang telah mengakui isi piagam
ini dan percaya kepada Allah dan kepada hari kemudian, tidak
dibenarkan menolong pelaku kejahatan atau membelanya, dan
bahwa barangsiapa yang menolongnya atau melindunginya, ia akan
mendapat kutukan dan murka Allah pada hari kiamat, dan tak ada
sesuatu tebusan yang dapat diterima.
 
"Bahwa bilamana diantara kamu timbul perselisihan tentang
sesuatu masalah yang bagaimanapun, maka kembalikanlah itu
kepada Allah dan kepada Muhammad - 'alaihishshalatu wassalam.
 
"Bahwa orang-orang Yahudi harus mengeluarkan belanja
bersama-sama orang-orang beriman selama mereka masih dalam
keadaan perang.
 
"Bahwa orang-orang Yahudi Banu Auf adalah satu umat dengan
orang-orang beriman. Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang
pada agama mereka, dan orang-orang Islampun hendaknya
berpegang pada agama mereka pula, termasuk pengikut-pengikut
mereka dan diri mereka sendiri, kecuali orang yang melakukan
perbuatan aniaya dan durhaka. Orang semacam ini hanyalah akan
menghancurkan dirinya dan keluarganya sendiri.
 
"Bahwa terhadap orang-orang Yahudi Banu'n-Najjar, Yahudi
Banu'l-Harith, Yahudi Banu Sa'ida, Yahudi Banu-Jusyam, Yahudi
Banu Aus, Yahudi Banu Tha'laba, Jafna dan Banu Syutaiba5
berlaku sama seperti terhadap mereka sendiri.
 
"Bahwa tiada seorang dari mereka itu boleh keluar kecuali
dengan ijin Muhammad s.a.w.
 
"Bahwa seseorang tidak boleh dirintangi menuntut haknya karena
dilukai; dan barangsiapa yang diserang ia dan keluarganya
harus berjaga diri, kecuali jika ia menganiaya. Bahwa Allah
juga yang menentukan ini.
 
"Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban menanggung nafkah
mereka sendiri dan kaum Musliminpun berkewajiban menanggung
nafkah mereka sendiri pula. Antara mereka harus ada tolong
menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang pihak
yang mengadakan piagam perjanjian ini.
 
"Bahwa mereka sama-sama berkewajiban, saling
nasehat-menasehati dan saling berbuat kebaikan dan menjauhi
segala perbuatan dosa.
 
"Bahwa seseorang tidak dibenarkan melakukan perbuatan salah
terhadap sekutunya, dan bahwa yang harus ditolong ialah yang
teraniaya.
 
"Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban mengeluarkan belanja
bersama orang-orang beriman selama masih dalam keadaan perang.
 
"Bahwa kota Yathir adalah kota yang dihormati bagi orang yang
mengakui perjanjian ini.
 
"Bahwa tetangga itu seperti jiwa sendiri, tidak boleh diganggu
dan diperlakukan dengan perbuatan jahat.
 
"Bahwa tempat yang dihormati itu tak boleh didiami orang tanpa
ijin penduduknya.
 
"Bahwa bila diantara orang-orang yang mengakui perjanjian ini
terjadi suatu perselisihan yang dikuatirkan akan menimbulkan
kerusakan, maka tempat kembalinya kepada Allah dan kepada
Muhammad Rasulullah -s.a.w. - dan bahwa Allah bersama orang
yang teguh dan setia memegang perjanjian ini
 
"Bahwa melindungi orang-orang Quraisy atau menolong mereka
tidak dibenarkan.
 
"Bahwa antara mereka harus saling membantu melawan orang yang
mau menyerang Yathrib ini. Tetapi apabila telah diajak
berdamai maka sambutlah ajakan perdamaian itu.
 
"Bahwa apabila mereka diajak berdamai, maka orang-orang yang
beriman wajib menyambutnya, kecuali kepada orang yang
memerangi agama. Bagi setiap orang, dari pihaknya sendiri
mempunyai bagiannya masing-masing.
 
"Bahwa orang-orang Yahudi Aus, baik diri mereka sendiri atau
pengikut-pengikut mereka mempunyai kewajiban seperti mereka
yang sudah menyetujui naskah perjanjian ini dengan segala
kewajiban sepenuhnya dari mereka yang menyetujui naskah
perjanjian ini.
 
"Bahwa kebaikan itu bukanlah kejahatan dan bagi orang yang
melakukannya hanya akan memikul sendiri akibatnya. Dan bahwa
Allah bersama pihak yang benar dan patuh menjalankan isi
perjanjian ini
 
"Bahwa orang tidak akan melanggar isi perjanjian ini, kalau ia
bukan orang yang aniaya dan jahat.
 
"Bahwa barangsiapa yang keluar atau tinggal dalam kota Medinah
ini, keselamatannya tetap terjamin, kecuali orang yang berbuat
aniaya dan melakukan kejahatan.
 
"Sesungguhnya Allah melindungi orang yang berbuat kebaikan dan
bertakwa."
 
Inilah dokumen politik yang telah diletakkan Muhammad sejak
seribu tiga ratus lima puluh tahun yang lalu dan yang telah
menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan
pendapat; tentang keselamatan harta-benda dan larangan orang
melakukan kejahatan. Ia telah membukakan pintu baru dalam
kehidupan politik dan peradaban dunia masa itu. Dunia, yang
selama ini hanya menjadi permainan tangan tirani, dikuasai
oleh kekejaman dan kehancuran semata. Apabila dalam
penandatanganan dokumen ini orang-orang Yahudi Banu Quraiza,
Banu'n-Nadzir dan Banu Qainuqa tidak ikut serta, namun tidak
selang lama sesudah itu merekapun mengadakan perjanjian yang
serupa dengan Nabi.
 
Demikianlah, seluruh kota Medinah dan sekitarnya telah
benar-benar jadi terhormat bagi seluruh penduduk. Mereka
berkewajiban mempertahankan kota ini dan mengusir setiap
serangan yang datang dari luar. Mereka harus bekerja sama
antara sesama mereka guna menghormati segala hak dan segala
macam kebebasan yang sudah disetujui bersama dalam dokumen ini
 
Muhammad sudah cukup merasa lega dengan hasil demikian ini.
Kaum Musliminpun merasa tenteram menjalankan kewajiban agama
mereka, baik dalam berjamaah ataupun sendiri-sendiri.

Mereka tidak lagi kuatir ada gangguan atau akan takut
difitnah. Ketika itulah Muhammad menyelesaikan perkawinannya
dengan Aisyah bt. Abi Bakr, yang waktu itu baru berusia
sepuluh atau sebelas tahun. Ia adalah seorang gadis yang
lemah-lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai
dalam pergaulan. Ketika itu ia sedang menjenjang remaja
puteri, mempunyai kegemaran bermain-main dan bersukaria.
Pertumbuhan badannya baik sekali.
 
Pertama ia pindah ke tempatnya yang sekarang di samping tempat
Sauda di sisi mesjid, ia melihat Muhaminad adalah seorang ayah
yang penuh kasih-sayang, seorang suami yang penuh cintakasih.
Ia tidak keberatan ikut bermain-main dengan barang-barang
mainannya itu. Dengan itu Aisyah telah menghiburnya pula dari
pikiran yang berat-berat yang selalu menjadi bebannya karena
suasana politik Yathrib yang kini sudah mulai diarahkan dengan
sebaik-baiknya itu.

Dalam suasana kaum Muslimin yang sudah mulai tenteram
menjalankan tugas-tugas agama itu, pada waktu itu kewajiban
zakat dan puasa mulai pula dijalankan hukumnya. Di Yathrib
inilah Islam mulai menemukan kekuatannya. Ketika Muhammad
sampai di Medinah, bila ketika itu waktu-waktu sembahyang
sudah tiba, orang berkumpul bersama-sama tanpa dipanggil. Lalu
terpikir akan memanggil orang bersembahyang dengan
mempergunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Tetapi dia
tidak menyukai terompet itu. Lalu dianjurkan mempergunakan
genta, yang akan dipukul waktu sembahyang, seperti dilakukan
oleh orang-orang Nasrani.
 
Tetapi kemudian sesudah ada saran dari Umar dan sekelompok
Muslimim - menurut satu sumber, - atau dengan perintah Tuhan
melalui wahyu, menurut sumber lain - penggunaan genta inipun
dibatalkan dan diganti dengan azan. Selanjutnya diminta kepada
Abdullah b. Zaid b. Tha'laba:
 
"Kau pergi dengan Bilal dan bacakan kepadanya - maksudnya teks
azan - dan suruh dia menyerukan azan itu, sebab suaranya lebih
merdu dari suaramu."

Di samping mesjid ada sebuah rumah kepunyaan seorang wanita
dari Banu'n-Najjar yang lebih tinggi dari mesjid. Bilal naik
keatas rumah itu lalu menyerukan azan. Dengan demikian, setiap
hari di waktu fajar seluruh penduduk Yathrib mendengar seruan
bersembahyang itu diucapkan dengan alunan suara yamg indah dan
lembut sekali, yang ditujukan Bilal ke segenap penjuru, dan
menggema ke telinga pendengarnya:
 
"Allahu Ahbar! Allahu Akbar! Asyhadu an la ilaha illa Allah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayy 'ala' sh-shala hayy
'ala'l-falah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. La ilaha illa
Allah." (Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Aku bersaksi tak
ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
Utusan Allah. Marilah sembahyang. Marilah mencapai kemenangan.
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Tak ada tuhan selain
Allah).
 
Dengan demikian ini rasa takut yang selama ini membayangi kaum
Muslimin telah berubah jadi aman dan tenteram. Yathrib kini
telah menjadi Madinat'r-Raslll - menjadi Kota - Rasulullah.
Penduduk kota ini yang bukan Islam sudah pula merasakan adanya
kekuatan kaum Muslimin - suatu kekuatan yang bersumber dari
lubuk hati yang sudah mengenal pengorbanan, yang sudah
mengalami pelbagai macam penderitaan, demi membela iman. Kini
mereka memetik buahnya, buah kesabaran dan ketabahan hati.
Mereka merasakan adanya kebebasan beragama yang telah
ditentukan Islam itu dan bahwa tidak ada kekuasaan seseorang
atas manusia lain, dan bahwa agama hanya bagi Allah semata,
hanya kepadaNya adanya pengabdian itu. Di hadapan Tuhan semua
manusia itu sama. Balasan yang akan mereka terima sesuai
dengan perbuatan yang mereka lakukan dan dengan niat yang
telah mendorong perbuatan itu.
 
Sekarang jalan sudah terbuka di hadapan Muhammad dalam
menyebarkan ajaran-ajarannya itu. Dan biarlah pribadinya dan
segala tingkah lakunya yang akan menjadi teladan tertinggi
dalam ajaran-ajarannya itu. Dan biarlah ini pula yang akan
menjadi batu pertama dalam pembinaan peradaban Islam.
 
Batu pertama ini ialah persaudaraan umat manusia: persaudaraan
yang akan mengakibatkan seseorang tidak sempurna imannya
sebelum ia dapat mencintai saudaranya seperti mencintai
dirinya sendiri dan sebelum persaudaraan demikian itu dapat
mencapai kebaikan dan rasa kasih-sayang tanpa suatu sikap
lemah dan mudah menyerah. Ada orang yang bertanya kepada
Muhammad; "Perbuatan apakah yang baik dalam Islam?" Dijawab:
"Sudi memberi makan dan memberi salam kepada orang yang
kaukenal dan yang tidak kaukenal."

Dalam khutbah pertama yang diucapkannya di Medinah ia berkata:
"Barangsiapa yang dapat melindungi mukanya dari api neraka
sekalipun hanya dengan sebutir kurma, lakukanlah itu. Kalau
itupun tidak ada, maka dengan kata-kata yang baik. Sebab
dengan itu, kebaikan itu mendapat balasan sepuluh kali lipat."
Dan dalam khutbahnya yang kedua dikatakannya: "Beribadatlah
kamu sekalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukanNya
dengan apapun. Benar-benar takutlah kamu kepadaNya. Hendaklah
kamu jujur terhadap Allah tentang apa yang kamu katakan baik
itu; dan dengan ruh Allah hendaklah kamu sekalian saling
cinta-mencintai. Allah sangat murka kepada orang yang
melanggar janjinya sendiri."
 
Dengan kata-kata ini dan yang semacam ini ia berbicara dengan
sahabat-sahabatnya itu, ia berkhutbah di mesjid kepada orang
banyak, sambil bersandar pada batang pohon kurma yang
dijadikan penopang atap mesjid itu, yang kemudian lalu disuruh
buatkan mimbar terdiri dari tiga tangga. Waktu menyampaikan
khutbah ia berdiri pada tangga pertama, dan pada tingkat
tangga kedua di waktu ia duduk.
 
Bukan hanya kata-katanya itu saja yang menjadi sendi ajaran
adanya persaudaraan demikian itu, yang dalam peradaban Islam
merupakan bagian yang penting sekali, melainkan juga
perbuatannya serta teladan yang diberikannya adalah contoh
persaudaraan dalam bentuknya yang benar-benar sempurna. Dia
adalah Rasulullah - Utusan Allah; tapi tidak mau ia
menampakkan diri dalam gaya orang berkuasa, atau sebagai raja
atau pemegang kekuasaan duniawi. Kepada sahabat-sahabatnya ia
berkata: "Jangan aku dipuja, seperti orang-orang Nasrani
memuja anak Mariam. Aku adalah hamba Allah. Sebutkan sajalah
hamba Allah dan RasulNya."
 
Sekali pernah ia mendatangi sekelompok sahabat-sahabatnya
sambil bertelekan pada sebatang tongkat. Mereka berdiri
menyambutnya. Tapi dia berkata: "Jangan kamu berdiri seperti
orang-orang asing yang mau saling diagungkan.
 
Apabila ia mengunjungi sahabat-sahabatnya iapun duduk dimana
saja ada tempat yang terluang. Ia bergurau dengan
sahabat-sahabatnya, bergaul dengan mereka, diajaknya mereka
bercakap-cakap, anak-anak merekapun diajaknya bermain-main dan
didudukkannya mereka itu dipangkuannya. Dipenuhinya undangan
yang datang dari orang merdeka atau dari si budak dan si
miskin. Dikunjunginya orang yang sedang sakit, yang jauh
tinggal di sana, di ujung kota. Orang yang datang minta maaf
dimaafkannya. Dan ia yang memulai memberi salam kepada orang
yang dijumpainya. Ia yang lebih dulu mengulurkan tangan
menjabat sahabat-sahabatnya. Apabila ada orang yang menunggu
ia sedang salat, dipercepatnya sembahyangnya lalu ditanyanya
orang itu akan keperluannya. Sesudah itu kembali lagi ia
meneruskan ibadatnya. Baik hati ia kepada setiap orang dan
selalu senyum. Dalam rumah-tangga, ia ikut memikul beban
keluarga: ia mencuci pakaian, menambalnya dan memerah susu
kambing. Ia juga yang menjahit terompahnya, menolong dirinya
sendiri dan mengurus unta. Ia duduk makan bersama dengan
bujang, ia juga mengurus keperluan orang yang lemah, yang
menderita dan orang miskin. Apabila ia melihat seseorang yang
sedang dalam kebutuhan ia dan keluarganya mengalah, sekalipun
mereka sendiri dalam kekurangan, tak ada sesuatu yang
disimpannya untuk besok; sehingga tatkala ia wafat, baju
besinya sedang tergadai di tangan seorang Yahudi - karena
untuk keperluan belanja keluarganya. Sangat rendah hati ia,
selalu memenuhi janji. Tatkala ada sebuah delegasi dari pihak
Najasi datang, dia sendiri yang melayani mereka, sehingga
sahabat-sahabat menegurnya:
 
"Sudah cukup ada yang lain," kata sahabat-sahabatnya itu.
 
"Mereka sangat menghormati sahabat-sahabat kita," katanya.
"Saya ingin membalas sendiri kebaikan mereka.
 
(bersambung ke bagian 3/4)
 

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komen dgn kalimat yg sopan ya..

 

Popular Posts

Untuk melihat profil, taruh kursor di atas photoku

Follower

Just select text on the page and get instant translation from Google Translate!
Google Translate Client